Antara Wisata dan Bencana: Strategi Pengembangan Usaha Sosial di Wilayah Pesisir

Antara Wisata dan Bencana: Strategi Pengembangan Usaha Sosial di Wilayah Pesisir

29 Apr 19

Sumber daya alam Indonesia yang beragam seperti hutan, gunung, dan laut menjadi potensi tersendiri dalam pengembangan sosial dan ekonomi masyarakat. Disisi lain, terdapat risiko-risiko bencana yang terus mengintai berbagai konteks wilayah di Indonesia. Salah satunya diwilayah pesisir. Luasnya lautan dan banyaknya pantai selama ini dipandang sebagai potensi wisata yang sangat besar sehingga menarik minat berbagai pihak, baik pemerintah, pengusaha besar, serta keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan dan pengembangan objek wisata.

Arevin, Sama, Asngari, dan Mujiono (2014) pernah melakukan kajian tentang pemberdayaan masyarakat pesisir dalam bidang pariwisata berupa pengembangan homestay. Pendekatan Community Based Tourism digunakan untuk melakukan pemberdayaan masyarakat untuk menjadi wirausaha sosial dalam bidang pariwisata. Kajian dilakukan di beberapa wilayah pesisir seperti  Pangandaran Jawa Barat, Parangtritis Yogyakarta, dan Karangasem Bali. Hal ini karena industri pariwisata dipandang potensial dan akan menguntungkan masyarakat setempat.

Homestay yang berkembang di wilayah tersebut merupakan UMKM karena dimiliki dan dikelola oleh masyarakat setempat. Hal tersebut yang membedakan keberpihakan usaha homestay dengan hotel. Homestay lebih banyak memberikan keuntungan kepada masyarakat karena terlibat langsung dalam kegiatan pariwisata.

Selain memiliki potensi wisata yang dapat memberikan manfaat bagi ekonomi masyarakat, terdapat tantangan yang perlu diantisipasi dalam hal wisata di pesisir. Wilayah pesisir di Indonesia sangat rentan terhadap berbagai jenis bencana, mulai dari gelombang pasang, banjir rob, gempa bumi, dan tsunami. Apabila bencana tersebut terjadi, maka kegiatan ekonomi masyarakat yang biasanya berkembang di wilayah pesisir akan terganggu, mengalami kerugian, hingga berakibat korban jiwa. Seperti bencana gelombang pasang yang terjadi di Pantai Parangtritis, Bantul, Yogyakarta, yang mana merupakan objek wisata yang ramai didatangi pengunjung. Akibat dari gelombang tersebut, lapak pedagang yang berjualan di sekitar pantai harus tutup bahkan merusak bangunan (Retnaningrum, 2016).

Kelompok yang paling dirugikan dari bencana tersebut adalah masyarakat yang tinggal di sekitar pesisir. Terutama masyarakat setempat yang sumber penghidupannya ada dilaut atau pesisir. Syarief (2010, dalam Darsono, Purwaningsih, Kusumastuti, dan Triwahana, 2015) menjelaskan bahwa pemberdayaan kelompok masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir sangat berbeda dengan konteks kelompok lainnya. Hal ini karena banyaknya kelompok masyarakat yang terlibat dalam kegiatan ekonomi di pesisir, seperti nelayan, buruh nelayan, nelayan tambak, pengepul ikan, pelaku usaha pariwisata, dan lainnya. Setiap kelompok memiliki perspektif berbeda-beda.

Terdapat potensi pariwisata yang apabila dikembangkan akan membantu masyarakat, akan tetapi berbagai tantangan bencana perlu disadari. Terdapat beberapa strategi yang dapat membantu masyarakat dalam pengembangannya. Melanjutkan analisis dari Arevin, Sama, Asngari, dan Mujiono (2014), diketahui bahwa keberhasilan usaha sosial di bidang pariwisata yaitu homestay di Pangandaran Jawa Barat, Parangtritis Yogyakarta, dan Karangasem Bali ditentukan oleh dua hal. Pertama pemberdayaan kepada pemilik homestay tentang pengelolaan homestay, seperti kegiatan pelatihan, motivasi berwirausaha, serta aktif dalam kegiatan kelompok setempat. Melalui kelompok masyarakat mengembangkan usaha sosial berupa homestay.

Masyarakat sendiri telah aktif membangun kegiatan ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraannya dan mengembangkan sektor pariwisata. Akan tetapi menurut Agustin, 2016, aspek keamanan kegiatan pariwisata di Parangtritis masih perlu ditingkatkan kembali. Penelitian yang dia lakukan menunjukkan fasilitas mitigasi bencana masih belum memadai dan sesuai standar. Selanjutnya pemerintah daerah pun masih belum sepenuhnya aktif melakukan sosialisasi dan kerja sama dengan pelaku usaha pariwisata dalam melakukan mitigasi bencana di wilayah pesisir.

Fenomena alam seperti pasang, gempa bumi, dan tsunami sulit untuk dideteksi kejadiannya dengan tepat. Risiko dapat dikurangi dengan kemitraan berbagai pihak dalam mitigasi. Kegiatan usaha sosial masyarakat di wilayah pesisir akan menurun apabila dikenal sebagai wilayah yang belum maksimal memberikan informasi kebencanaan dan menyediakan fasilitas mitigasi bencana. Oleh karena itu, potensi berupa berkembangnya kelompok usaha sosial berupa homestay di wilayah pesisir perlu bekerja sama dengan berbagai pihak, baik pemerintah, badan penanggulangan bencana, serta usaha-usaha lainnya untuk melakukan mitigasi risiko bencana.

Referensi

Arevin, Sarma, Asngari, Muljono, (2014), “Strategi of Empowerment to Improve the Success of the Business Owners’ Coastal Homestay, International Journal of Humanities and Social Science June 2014.

Darsono, Purwaningsih, Kusumastuti, dan Triwahana, (2015). Desain Pengelolaan Wilayah Pesisir Pantai Berbasis Masyarakat. Prosiding Seminar Nasional Universitas PGRI Yogyakarta. Diakses dari http://repository.upy.ac.id/382/1/FK38_Darsono%20FIX%20230-235.pdf

Retnaningrum, (2016). Pesisir Pantai Indonesia Dilanda Banjir Rob dan Abrasi. Diakses pada 6 Januari 2019 dari http://www.satuharapan.com/read-detail/read/pesisir-pantai-indonesia-dilanda-banjir-rob-dan-abrasi

Tyawati, 2016. “Tourists’ Safety of Coastal Tourism Revisited a Study at Parangtritis Beach, District of Bantul, Yogyakarta Special Region, Asia Tourism Forum 2016.

[Nitia. 2019]

Related Opinion