Ingin Memulai Bisnismu? Lebih Baik Jangan Nekat Kalau Tidak Punya Tekad!

Ingin Memulai Bisnismu? Lebih Baik Jangan Nekat Kalau Tidak Punya Tekad!

28 May 19

Yogyakarta – Kemajuan teknologi telah membuka pintu yang lebar bagi pertumbuhan ekonomi bangsa. Bahkan dalam kurun waktu sepuluh hingga lima tahun terakhir, kita tengah dihadapkan oleh gelombang revolusi industri 4.0 yang begitu kuat dan mengubah cara manusia bekerja, berkomunikasi, hingga bertransaksi.

Tak heran jika kehadirannya menjadi pendorong pesatnya pertumbuhan bisnis, khususnya startup di Indonesia. Hal ini tentu menjadi kabar gembira bagi para generasi milenial. Pasalnya, dibandingkan generasi-generasi sebelumnya, mereka cepat beradaptasi dengan perkembangan dan akrab dengan teknologi.

Peluang ini pun disambut baik dengan menjamurnya bisnis-bisnis baru yang dibangun oleh generasi milenial. Belum lagi, kisah sukses para anak muda bangsa membangun kerajaan bisnisnya menjadi dongeng ampuh bagi anak-anak muda lainnya untuk terjun ke dunia ini. Namun praktiknya, tak sedikit dari mereka yang harus merasakan pahitnya kegagalan. Banyak startup dan bisnis baru yang hadir, namun banyak juga yang menyerah di tengah jalan akibat menjalankan usaha dengan bekal nekat.

Dilansir dari Kompas.com, Billy Boen, founder Young on Top Indonesia pernah mengungkapkan bahwa menjadi seorang wirausaha membutuhkan persiapan matang dan bukan sekadar modal nekat. Daripada nekat, tekad adalah modal utama untuk memulai sebuah usaha. "Sebagian besar kegagalan bisnis disebabkan karena kenekatan seseorang. Mereka tergiur untuk menangguk untung yang tinggi dalam waktu singkat berbisnis,” ungkap Billy.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Wesley Harjono, Managing Director GK Plug and Play Indonesia dan Riki Sonjaya,  Direktur Operasional Young On Top pada Talk Show “What Are Some Problems That A Startup Can Solve?” yang digelar oleh Fisipol Creative Hub (Chub) UGM, Senin (21/1) lalu.

Riki juga mengungkapkan bahwa dalam berbisnis, posisi penting dipegang oleh seorang pemimpin perusahaan. Ia menjadi kunci keberhasilan dan kelanggengan sebuah bisnis. Namun faktanya banyak dari mereka yang sudah terjun ke dunia bisnis tanpa ada persiapan yang matang.

“Terkadang mereka lupa dan lengah, ada karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin yaitu mental seorang pemimpin. Buktinya dari 1.000 startup yang hadir, coba hitung apakah 10 persen di antaranya mampu bertahan lama?” kata Riki.

Ia memaparkan bahwa saat ini startup terkadang lahir bukan dari orang-orang yang memiliki pengalaman di dunia bisnis. Rata-rata hadir dari kalangan pelajar dan mahasiswa dengan bekal yang masih kurang. Oleh karena itu banyak dari mereka yang berusia hanya hitungan bulan.

Sepakat dengan Riki, Wesley juga menyampaikan bahwa hal mendasar yang menjadi penilaian sebuah bisnis/startup yang baik adalah pemimpinnya. “Pertama yang kami lihat adalah founder, lalu ide dan pasarnya. Jadi sebagus apapun produknya kalau CEO tidak memiliki karakter yang baik, maka usahanya akan berantakan,” tutup Wesley.

Related Opinion