Merapi Lava Tour Yogyakarta: Melihat Peluang Usaha Sosial dari Bencana Gunung Merapi

Merapi Lava Tour Yogyakarta: Melihat Peluang Usaha Sosial dari Bencana Gunung Merapi

29 Apr 19 Admin AKM

Indonesia diketahui sebagai negara dengan banyak gunung api yang masih aktif, akibatnya bencana gunung meletus terus terjadi dan tidak dapat dihindari. Begitu pula meletusnya gunung Merapi di Yogyakarta yang menimbulkan korban jiwa, luka-luka, serta kerugian material. Kondisi tersebut tidak dapat terhindarkan karena wilayah sekitar gunung Merapi menjadi wilayah tinggal penduduk dan kegiatan ekonomi.

Pada tahun 2010 menurut Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PusdalopsBNPB) dinyatakan korban tewas mencapai 275 orang, termasuk wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah (Detik, 2010). Kerugian dari letusan Gunung Merapi dinyatakan sekitar Rp 4,23 triliun. Angka tersebut didapatkan dari rusaknya berbagai fasilitas umum dan perumahan. Selain itu, bencana juga berdampak pada kegiatan ekonomi seperti pertanian dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Menurut Kepala Pusat Data Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, kerugian dari sektor UMKM sebanyak Rp 382 miliar atau setara dengan 12,4% dari total kerugian bencana letusan Gunung Merapi (Republika, 2011).

Banyaknya korban dan kerugian materi tentu saja menimbulkan rasa duka bagi masyarakat setempat, akan tetapi setelah bencana terjadi, sekelompok masyarakat bangkit kembali bahkan dengan melihat potensi pasca bencana. Potensi dalam hal ini adalah kegiatan ekonomi yang dapat membantu masyarakat setempat untuk memenuhi kebutuhannya dan meningkatkan kesejahteraannya.

Triyono, salah seorang korban letusan Gunung Merapi merasa perlu meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat setelah terjadinya bencana. Selanjutnya dia berinisiatif membuat usaha tour yang diberi nama “Merapi Lava Tour”. Aktivitas dari usaha tersebut berupa memfasilitasi wisatawan untuk melihat dan merasakan pengalaman bencana meletusnya Gunung Merapi melalui kunjungan ke lokasi bencana, museum, dan objek-objek lainnya yang berhubungan dengan letusan gunung.

Selaku inisiator, Triyono memulai mengembangkan usaha tersebut dengan mengembangkan komunitas Jeep, dimana Jeep berfungsi menjadi transportasi kegiatan Merapi Lava Tour. Mulai dari beberapa Jeep, masyarakat desa di sekitar Gunung Merapi pun ikut serta terlibat dalam kegiatan “Merapi Lava Tour”, baik sebagai tourguide, membuka warung, hingga ikut serta menyediakan Jeep. Hingga pada tahun 2016 saja, telah berkembang sekitar 26 komunitas Jeep yang beranggotakan 600 pemilik Jeep (Agusdin, 2018). Hal tersebut terjadi karena permintaan kegiatan wisata di sekitar Gunung Merapi semakin meningkat.

Merapi Lava Tour menjadi salah satu contoh usaha sosial atau socialentrepreneurship yang berkembang dengan baik. Menurut Mulyowati dan Indarwati (2016), Merapi Lava Tour dengan berdasarkan community-oriented atau memprioritaskan pemberdayaan masyarakat yang terdampak bencana Gunung Merapi. Bahkan terdapat nilai-nilai sosial yang dianut oleh kelompok masyarakat yang ikut serta dalam kegiatan Merapi Lava Tour.

Contohnya dalam pengelolaan objek wisata dan kelompok tour, dilakukan koordinasi oleh Kepala Desa. Seperti dalam penentuan dan pengelolaan biaya masuk objek wisata dikoordinasikan oleh Kepala Desa. Hasilnya digunakan untuk membantu penyintas bencana letusan Gunung Merapi, terutama lansia yang sudah tidak dapat bekerja. Selanjutnya keuntungan dari kegiatan wisata dilakukan pembagian secara proporsional dan adil diantara setiap orang yang terlibat, seperti pemilik Jeep, sopir, dan kelompok masyarakat.

Bencana alam memang tidak dapat terhindarkan, akan tetapi dapat diantisipasi dengan kesadaran akan risiko bencana yang ada di sekitar kita. Serta melalui berkembangnya Merapi Lava Tour menunjukkan bahwa walaupun bencana alam menimbulkan kedukaan dan kerugian, masih ada potensi untuk bangkit kembali dan mengembangkan usaha sosial dari bencana yang telah terjadi. Kegiatan usaha sosial bukan hanya untuk meningkat keuntungan saja. Tetapi dapat pula membantu penyintas lain yang menghadapi kesulitan untuk mandiri pasca bencana.

Dalam pengembangan usaha sosial, kita dapat melihat bahwa dibutuhkan inisiator yang berani melakukan inovasi baru dan mengajak masyarakat sekitar untuk berkelompok. Dalam mencapai keberhasilan usaha sosial, dibutuhkan koordinasi yang baik antara pelaku usaha sosial, masyarakat sekitar, serta pemerintah lokal. Melalui kerja sama dan kolaborasi berbagai kegiatan usaha sosial akan lebih mudah berkembang dan memberikan dampak sosial ekonomi bagi seluruh pihak.

Referensi

AgusdinAgusdin, “Contribution of Creative Tourism to Entrepreneurship” In The Emerald HandbookofEntrepreneurship in Tourism andHospitality. Published: 25 June 2018; 387-401.

Detik, (2010). BNPB: Jumlah Korban Tewas Merapi 275 Orang diakses pada 8 Januari 2019 dari https://news.detik.com/berita/1496723/bnpb-jumlah-korban-tewas-merapi-275-orang

Mulyowati, dan Indarwati A. 2016. PemberdayaanPendudukLokal dan EkowisatauntukPerkembanganEkonomiKreatif di Indonesia (StudiKasus: Gunung Merapi).Prosiding Seminar Nasional Ekonomi dan Bisnis& Call For Paper FEB UniversitasMuhammadiyah Sidoarjo, Indonesia. 

Republika, (2011). Kerugian Akibat Letusan Merapi Capai Rp 4,23 T diakses pada 8 Januari 2019 dari https://republika.co.id/berita/breaking-news/nusantara/11/01/18/159028-kerugian-akibat-letusan-merapi-capai-rp-4-23-t

[Nitia, 2019]

Related Opinion